TRAVELING | Ngelancong Ke Bandung Part 2

18:52:00



Jakarta 22/04/2017
Libur panjang telah tiba. Saatnya gue dan gue untuk gue memanjakan diri menyatu dengan alam di kota kembang provinsi Jawa Barat. Bandung iya Bandung selain puncak Bogor, Bandung juga termasuk salah satu destinasi pilihan untuk berwisata. Bukan hanya pemandangan alam yang masih asri kini kian pesatnya kota Bandung bertransformasi menjadi destinasi kota idaman yang memiliki sekian banyak tata ruang yang indah.


View Alun- Alun Bandung

Alasan utama gue betah ke Bandung karena jarak tempuh dari Ibukota tidak terlalu jauh. Dan juga Bandung selalu bikin gue kangen akan kebersamaan dalam bersosialisasi (berteman). Berkunjung ke salah satu teman di Bandung yang gue kenal dari salah satu komunitas semakin mempermudah gue berkunjung ke tempat- tempat yang belum pernah gue kunjungi di sana. Ini memang kali pertama gue berangkat sendiri dengan menggunakan transportasi umum kereta api.
Keadaan dalam kereta Argo Prahyangan jurusan Gambir - Bandung
Karena ingin lebih cepat dan menghindari jalur macet libur panjang. Alhamdulillah pilihan gue menggunakan jasa transportasi umum kereta api adalah pilihan yang tepat karena mendengar kabar dari berita telah terjadi kecelakan maut yang merenggut nyawa sekitar 25 orang bahkan belasan kendaraan membuat gue harus lebih waspada. *prayforvictim. Kotar-katir yang dialamin bukan dari gue sendiri melainkan orang rumah aka Abi (ayah) yang terus menerus memantau keberadaan gue setiap perjalanan, untuk menghindari kepanikan keluarga, gue pun terus ngabarin setiap perjalanan gue. Walaupun sempat tersendat akibat sinyal data yang gue pakai belum berstandar 4G hehehe jadi ye gimana yae? karena HS tipenya reuse kalo belom rusak yah gak gue ganti gitu aja. Perjalanan menggunakan jasa kereta api sekitar 80.000-an jadi kalau PP sekitar 160ribuan.

Hatur nuhun Rak
Malam itu gue sampai sekitar jam 22.00 WIB sembari nunggu teman yang nganter ke rumah salah satu teman gue di Bandung. Rakha namanya teman yang jemput gue ke rumah Garcia di Daerah Margahayu Raya. Tapi sebelum sampai sana Rakha ngajak ke kedai yang jadi hutangnya dia untuk nemuin gue sama bajigur khas Bandung. Sampai ke Tempat namanya Kue Balok disana semacam warkop massal gitu menjual kuliner pinggiran seperti roti bakar tapi di bentuk menjadi balok (kotak). Iyalah hes namanya juga kue balok gimana sih. Kalo kue balon yah bulet. Setelah makan di Kue Balok gak terasa waktu semakin larut karena harus ke rumah Garcia dan gak enak kalau harus dateng kerumahnya tengah malam. Akhirnya Rakha ngebut sebisa mungkin untuk segera sampai.

Bermalam di Rumah Gar
Sampe rumah Garcia ternyata sudah ada teman gue dari Jakarta juga Iqbal dan Roy (temannya Iqbal) serta ada anak Bandung lainnya. Zam-zam, sama Epen. Kelihatannya keluarga lainnya sudah tidur karena rumah dan seisinya dalam kondisi gelap.

Sebelum tidur gue harus ngebersihin badan biar lebih nyeyak buat istirahat. Karena gue cewek sendiri diantara teman-teman lainnya posisi tidur gue dipisah dari yang lain.
Yaitu gue tidur sendirian di Rumah Pohonnya si Gar " What Rumah pohon? serem dong" "gak maneh gausah kuatir itu kamar aing kok" tambah Garcia dengan dialeg Sunda-nya. Dan ternyata rumah pohonya tidak seserem dipikiran gue melainkan hanya cara menaikinya seperti pohon dengan tangga seadanya. "maneh yakin?" Tanya si Gar. "Gar, urang beruntung bisa naik tangga kayak gini. Inget jaman kecil urang suka naik pohon" Ucap gue dengan bahasa Sunda sebisa gue.
Keadaan tangga untuk bisa memasukjn rumah pohon gar  
"Pokoknya kalau bisa jam 4 sudah di siap yah"
"Hah mau kemana kita? Ngejar sunrise?"
"Yaudah maneh tidur aja sebisanya jam 4 kita udh jln pokoknya"

Grasak grusuk gabisa tidur alhasil cuma bisa meremin mata sekitar sejaman. Lumayan juga dripada gak sama sekali. Jam 4 nyatanya cuma ada beberapa yang bangun bahkan ada yg masih ngorok dan bahkan ada yang gak tidur sama sekali. Akibatnya main dulu-duluan ke kamar mandi.

Hasilnya pada gak sempet sarapan tapi ternyata mamahnya Garcia udah nyiapin perbekalan air dan snack untuk kami semua di jalan. Yah namanya juga ibu mana tega ngeliat anaknya pagi buta ngelayaban terus gak sarapan. Nanti pun gue akan ngerasain hal yang sama. Hatur Nuhun Tante.

Rombongan yang berangkat sekitar 4 pasang motor berarti ada sekitar 8 orangan. Semua perbekalan disiapin sampe persiapan motor masing-masing personil. Selesai isi bensin kami langsung melanjutkan perjalanan.

Menyusuri perjalanan yang masih pagi buta menjadi salah satu bagian favorit gue dimanapun. Bukan hanya udara yang masih segar kami pun dimanjakan dengan pemandangan pergantian fajar yang sangat gue nantikan. Dimana melihat gradasi warna langit yang indah. Gue selalu bersyukur ketika membuka mata gue masih bisa menikmati perubahan fajar menuju pagi hari. Jika diibaratkan kamera gue akan mengabadikan panorama ini di kehidupan gue.

Selalu ada rombongan yang tertinggal


Track meunju Cukul Pangalengan
Ternyata diperjalanan tak sesuai target sebab, selalu ada rombongan yang tunggu-tungguan alhasil. ada yang duluan ada yang ketinggalan bahkan ada yang kesasar. Kala itu yang tersisa hanya gue, Gar, Rakha. Rombongan Epen dan Zam-Zam entah kemana. Sembari nunggu 1 personil lagi si Bena kita isi perut sedikit di salah satu Indomaret daerah Pangalengan.

Waktu terus berjalan jam hampir menunjukkan jam 09.00 pagi. Sebab itu kita segera berangkat. Bena sudah bersama rombongan kita. Untuk rombongan sebelumnya ternyata mereka sudah ada di rumah makan daerah situ Cilenca.

Setelah rombongan pertama ketemu kita semua memutuskan untuk merebahkan diri dari motor dan juga memutuskan untuk sarapan disana karena sesungguhnya perut tak bisa di zalimi begitu saja.

Gue pesen nasi dengan porsi sedang ditambah lauk khas sana Cilenca. Isi dari lauk gue ada tempe, tahu, ikan cilenca sama sambel pedes bgt dan juga teh anget. Porsi makan gue di pagi emng ga terkalu banyak karena pda dasarnya gue gabiasa sarapan pagi.

Sembari makan sembari ngeliatin pemandangan danau yang seger rasanya mau nyemplung tpi gabawa kancut ganti. Kekonyolan selalu ada aja dimanapun. Pokoknya gue emng gabisa berada dalam situasi yg hening walaupun hanya beberapa menit saja. Entah gue yg bikin lelucon atau gue yg modal ketawa pokoknya harus selalu rame deh.

Makananpun habis. Terus gue langsung bayar makanan yg gue makan. Sontak kaget ternyata harganya lumayan mahal untuk seporsi nasi sederhana ini sebesar 35.000/porsi. Mantap lagi-lagi gue dapet hal yang sama. Mungkin gabisa disepelekan nasi sederhana ini ada sejarahnya atau resep rahasianya makanya cukup mahal.

Ketinggalan Golden Hour

Apa itu Golden Hour? Jam terbaik atau waktu terbaik. Golden Hour menjadi incaran para photographer untuk mengambil moment dengan pencahayaan matahari yang lagi bagus bagusnya. Bukan sunrise melainkan setelah sunrise itu ada jam terbaiknya juga kisarannya sekitar jam 8-10 pagi.

Setelah isi perut lanjut ke perjalanan. Tapi sayang kita semua ketinggalan Golden Hour kala itu matahari gak begitu terik dan awan cukup berkabut dan mendung. Tapi gada penyesalan sampe Pangalengan masih bisa nikmatin fog yang hampir punah dan juga pemandangan hehijauan yg jarang banget sebenarnya gue temuin di Jakarta.

Taken by @kang.amil

Taken by @indarsena



Dan ada videonya juga nuhun Gar dan epen yg udah mau bikin urang teaser sebagus ini.


Rebahan kane di Situ Cilenca
Usai foto- foto di Cukul Pangalengan kita balik lagi ke Situ Cilenca untuk ngerebahin badan yang cukup lusuh dari perjalanan yang cukup jauh dari daerah Margahayu Raya.

View Situ Cilenca 



Ruang publik terbuka di Cilenca lumayan bagus. Pemandangan kehijauan nan asri sangat cocok dijadikan tempat berkumpul dengan keluarga dan juga teman. Udara kala itu cukup mendukung karena gak terlalu panas ataupun dingin. Jdinya sepoi-sepoi gitu deh.

Rebahan Kane di Situ Cilenca. sembari ditemani semilir angin bikin gue semakin ngantuk akibat lelah keliling Pangalengan. Personil lainnya ikut-ikutan rebahan dan benar tebakan gue pasti ada salah satu yang terpules hahaha. Katanya abis ini mau lanut lagi hunting di Danaunya, sebelah mananya sih urang gatau jdi puas-puasin rebahan kane dululah.

View Danau situ Cilenca.

 Kecewa gak bisa foto dideket danaunya karena di jembatannya kepenuhan takut ambruk akhirnya kita wefie tea. Cheersss sedapetnya saja

Dari Kiri Iqbal, Gue, Rakha, Epen, Garcia, Zam-zam, Bena. Hatur Nuhun Barudak Bandung. See You on the top.

Lanjut pulang ke rumah Gar karena waktu semakin sore. Cuaca di Bandung sudah mendung dan gulam jadi buat kita untuk segera pulang. Dan batul saja di perempatan jalan hujan menguyur kita semua. Kehujanan basah, laper jadi satu sampai mengharuskan kita semua untuk meneduh terlebih dahulu.










You Might Also Like

0 komentar

KOMENNYA YAH KAKA! :)

Featured Post

TUTORIAL | Vintage Effect On VSCO

Selamat malam teman-teman sebelumnya HS sudah share tutorial sebelumnya mengenai Low Saturation di VSCO berdasarkan request yang tem...

Photography

Artwork