STORY | Malaikat Dari Tisu: Pencarian

09:04:00



Jakarta 05/ 03/ 2017

PENCARIAN

Rasa penasaran yang kian menggeluti sikap yang semula diam kini tergerak dari sebuah mimpi dihari sebelumnya. Melangkahkan kaki di depan toko swasta bercabang di salah satu persimpangan lampu merah. Tempat dimana awal bertemu sosok itu. Sajian kopi instan di depan mata tak secuilpun dihiraukan. Tatapan tak berkulik sedetikpun hanya tak ingin meninggalkan dimana jejak dari sosok itu. Senjapun berganti, tanda malam telah tiba. Sajian kopi pun lenyap hingga pencarian ini harus terhenti seketika karena deringan telepon yang terus memanggil di ponsel. Pergi bergegas melanjutkan pekerjaan selanjutnya di rumah. Mungkin hari esok ada jawaban dari mimpi tersebut. Semoga tidak menjadi hari yang sia-sia.

Jakarta 14/03/2017

TERUS MENCARI

Rasa lelah bekerja seharian tak mengganggu semangat untuk bisa bertemu lebih dalam tentang sosok itu. Bukan hanya mengenai rasa penasaran melainkan keyakinan hati. Sulit dijelaskan awal dari semua perasaan itu. Bentuk kekaguman dan rasa simpati yang kuat kini akan mengalahkan semua rasa lelah di tubuh ini. Berharap semoga keyakinan kuat ini akan membawa hasil yang serupa.
Seperti biasa bagaimana cara agar bisa menemui sosok itu yaitu dengan menunggunya di depan toko swasta di persimpangan lampu merah. Tak ada camilan yang menemani hanya sapaan sosok lelaki yang memanggil dengan akrabnya. 
"Tumben kesini?"
"Iya bang, lagi pengen aja".
Tak hanya sampai disitu pembicaraan terus lanjut dengan topik yang sebenarnya.
"Bang, suka liat anak kecil yang jual tisu disekitaran sini gak?"
"Oh yang bocah laki laki itu? Yang kakinye bengkok itu yah?" Ucapnya dengan dialeg budaya betawi.
"Iya, lagi nyari anak itu"
"Wah, pinter tuh anak. Semangatnya tinggi biar begitu punya cita-cita yang tinggi sama suka berbagi anaknya. Trs sebagian duitnye neng katanya bakal nabung masuk ke smp ntr katanya"
"Oh gitu, emng anaknya baru yah mangkal di sini? Tinggalnya disekitaran sini? Sekolahnya juga?"
"Wah kalo sekolahnye saya gatau neng, sepertinya deket sini deh rumahnya juga kurang tahu dimananya, emang ada apa yah?"
"Hmm gapapa bang, cuma mau tau aja. Soalnya kan udah lama gak lewat sini dan baru liat juga tuh anaknya." Sambil merebahkan badan di kursi yang telah disediakan di toko tersebut.
"Tuhan jika memang kau izinkan hamba bertemu dengannya pertemukanlah" harapan dengan perasaan was-was yang terus dipanjatkan.

Tak lama itu mata ini langsung terkejut melihat sosok tersebut. Dan rasanya rasa lelah dan kantuk semuanya hilang sejenak. Rasa senang yang tak bisa diungkapkan akhirnya terwujud sebab perjuangan tersebut tak sia-sia.

Terlihatnya sosok tersebut dengan bergandengan tangan berasama wanita paruh baya menuju lampu merah di persimpangan jalan. Ibu, sepertinya wanita itu adalah ibundanya. Senyum kegigihan terlukis dari sosok itu. Sebab tak bisa diungkiri cuaca sore sedikit lembab yang berasal dari panas matahari dan juga angin yang menyengat ke tubuh menjadi keringat. Namun sepertinya cuaca itu tak membuat anak itu menyerah. Oh tuhan Batin ini tersentuh tak kuatnya air mata menetesi pipi melihat kekagumannya. Sosok itu tak terlihat kelelahan sama sekali justru semakin bersemangat rupanya. Didekatilah saya dengan sosok tersebut yang juga melemparkan senyum kepada saya. Nampaknya sosok itu ingin beristirahat sebentar sebab ia meletakkan tisu yang dibawanya di depan toko kemudian memasuki toko tersebut. Kembali ke luar tanpa tangan hampa. Dilihatnya sebotol minuman dingin yang ia bawa tuk melepaskan dahaga kala itu. Nampak juga ia sedikit bersantai tuk sejenak menghela napas. Tak lama itu dilanjutnya dengan menawarkan kembali tisu yang dibawanya ke salah satu pengendara motor di lampu merah itu.

Kebisingan terjadi antara mobil angkutan umum dan juga pengendara motor yang saling menyalip seperti tak ingin terperangkap dalam lampu merah. Sudah jadi pemandangan biasa di tempat ini. Namun sosok itu tak menghiraukan semuanya. Tak ada rasa takut pada sosok itu terus melawan lampu merah yang hanya berkelip sebentar. Tak sedikit yang membeli tisu tersebut nampaknya. Merekapun bisa merasakan simpati terhadap sosok itu. Tak hanya itu bahkan ada sekitar 2-3 orang yang terlihat bolak-balik dari kendaraan yang sama tuk sekedar membeli tisu yang dibawa sosok itu. Hingga akhirnya tumpukan tisu tersebut terlihat sedikit dari jumlah awal.

Suara adzan maghrib berkumandang aktivitas itupun terhenti. Sepertinya sosok itu menghormati suara adzan yang berkumandang yang berasal dari masjid dekat lampu merah itu. Inilah yang bisa dipelajari dari sosok itu masih tetap menghargai dan menjalankan kewajiban dikala kesibukan yang sedang ia hadapi. Proud him.

Senjapun semakin larut dan diri ini harus melanjutkan pekerjaan rumah selanjutnya. Dijumpailah sosok itu bersama sang ibunda yang sedang mengistirahatkan diri di ujung seberang toko di simpang jalan tersebut. 

"Dek, tisunya masih ada?"
"Yah kak maaf tisunya habis" Jawab sosok itu.
"Besok ada lagi kok kak" sambung sang ibunda
"Oh besok ada lagi yaudah nanti saya beli yah bu, de. Terima kasih".
Sekian pertemuan awal yang cukup menyenangkan akhirnya bisa berbicara dan melihat langsung senyum kecil mereka. Dilangkahkan kaki ini tuk segera pulang ke rumah.

Ps: Pencarin masih terus berlanjut! Selamat pagi

You Might Also Like

2 komentar

  1. Kisah nyata kah? Aku slalu kagum dengan anak2 yg ulet seperti mereka. Ini, yg bikin aku jg rela membeli dagangannya untuk membantu. Semoga anak2 seperti ini slalu dilindungi Tuhan kapanpun dan di manapun ya mba.. Kehidupan keras di sekitar mereka..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak ini kisah ku buat cerita yg diambil dari kisah nyata saat ini akupun masih terus observasi kegiatan anak tersebut dalam penulisanku selanjutnya. Terima kasih sudah membaca kak Fanny

      Delete

KOMENNYA YAH KAKA! :)

Instagram

steller

Subscribe